Solusi Kemacetan menggunakan Aplikasi Mobile PayRide

by
Berita Nasional

Bacakoran.net, Jakarta – Kemacetan lalu lintas masih menjadi permasalahan utama di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya. Tak mau tinggal diam, beberapa inovator memutar otak untuk menjadikan kemacetan lalu lintas sebagai peluang.

Agus Widjaja, Ivaline Tedjo, dan Jimmy Lim adalah tiga di antara banyak generasi muda Indonesia yang menciptakan peluang tersebut. Mereka mendirikan PayRide, sebuah aplikasi mobile yang menghubungkan pengiklan dengan pemilik mobil yang bersedia menampilkan iklan pada bodi kendaraan pribadi.

Mereka ingin membuktikan bahwa terjebak kemacetan tidak selamanya menyusahkan. PayRide menggabungkan iklan pada bodi mobil dengan teknologi pelacakan cerdas, sehingga para pemilik mobil bisa memperoleh penghasilan lebih dari waktu yang mereka habiskan di jalan.

Sementara itu, perusahaan akan mendapatkan cara yang unik dan efektif untuk melakukan promosi. Agus yang merupakan founder dan CEO PayRide mengatakan terjebak kemacetan parah memang memakan uang yang tidak sedikit. Dengan sekian banyaknya waktu yang terbuang di jalan, pengemudi harus menanggung biaya bahan bakar yang terbuang sia-sia.

“Platform kami ingin mengubah hal ini dengan memberikan peluang baru bagi pengemudi untuk mendapatkan penghasilan tambahan lewat periklanan di bodi mobil. Kami rasa ini adalah solusi yang sama-sama menguntungkan, baik bagi pengemudi maupun pengiklan,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/1/2018) di Jakarta.

Setelah mendaftar di PayRide, Agus melanjutkan, pengemudi diberikan kebebasan untuk langsung memilih iklan yang sedang ditawarkan oleh PayRide beserta dengan desain stiker iklan. Sementara itu, pengiklan berhak memilih jenis wrapping untuk materi promosi mereka.

“Setelah mobil selesai dilabeli stiker iklan dan siap turun ke jalan, maka pelacak GPS akan memberikan analisis real-time yang mengukur impression iklan tersebut,” tuturnya.

Tidak seperti para pesaingnya, PayRide menggunakan perangkat pelacak GPS khusus dan tidak bergantung pada GPS di ponsel pengemudi. Menurut Agus, strategi ini justru memberikan analisis yang lebih akurat dan terpercaya bagi para pengiklan, serta mencegah kemungkinan perusakan data dari pihak manapun.

Perusakan data adalah masalah yang cenderung terjadi pada sistem GPS ponsel pintar. Tak hanya itu, perangkat PayRide juga lebih mudah digunakan oleh pengemudi karena mengandalkan daya dari kendaraan, alih-alih menghabiskan baterai ponsel.

Berdasarkan Impression

PayRide juga membayar pengemudi berdasarkan hasil impression iklan, bukan berdasarkan jarak per kilometer. Ketika menghitung imbalan bagi pengemudi, aplikasi akan mengalkulasikan faktor letak jalan dan jam-jam mengemudi.

Misalnya, pengemudi akan mendapatkan imbalan lebih tinggi saat mengemudikan mobil di jalan yang ramai dan pada jam sibuk, karena iklan mereka bisa terlihat oleh lebih banyak pengguna jalan.

Menurut Ivaline selaku co-founder PayRide, langkah ini juga bagus untuk pengiklan yang hendak menjangkau pelanggan dengan cara yang unik dan berkesan. Mereka dapat menggunakan mobil sebagai ‘papan iklan yang bergerak’.

“Dengan PayRide, perusahaan bisa mengiklankan merek mereka di mana pun dan kapan pun. Kampanye ini juga hemat biaya karena anggaran yang dikeluarkan oleh pengiklan akan sesuai dengan impression yang mereka dapatkan,” jelasnya.

Dengan memulai bisnis di Surabaya, PayRide memiliki tujuan untuk memberdayakan pelaku bisnis yang ingin meraih pangsa pasar lebih besar. Saat ini, PayRide memiliki basis pengguna sebanyak 300 pemilik kendaraan, dengan lebih banyak pengemudi yang bergabung setiap bulannya.

“Kami melihat peluang besar di sini karena kami menawarkan sesuatu yang berbeda di ruang iklan regional. Bisnis kami mengakomodasi kebutuhan pengiklan dan menyampaikan pesan mereka dengan cara unik, eye-catching, dan efektif pada mobil,” ujar Jimmy, co-founder PayRide.

Berikan Komentar Anda Disini

comments