Berwisata Sekaligus Memberdayakan Masyarakat

by

Bacakoran.netJAKARTA – Kawasan geopark belakangan populer menjadi destinasi wisata bagi para pelancong lokal ataupun mancanegara. Tidak hanya menghadirkan pemandangan alam yang menakjubkan dan atraksi yang memicu adrenalin, keberadaan geopark dapat meningkatkan taraf hidup dan memberdayakan masyarakat setempat.

Indonesia terletak pada pertemuan antara tiga lempeng besar yang saling bertumbukan selama ratusan juta tahun yang lalu, yaitu Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Samudra Hindia-Australia, dan Lempeng Samudra Pasifik, sehingga dianugerahi keragaman geologi (geodiversity) yang unik dan memiliki potensi warisan geologi (geoheritage) yang besar. Suatu daerah atau kawasan yang memiliki geodiversity dan geoheritage sangat berpotensi untuk dijadikan taman bumi atau geopark.

Menurut Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) geopark adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka. Termasuk nilai arkeologi, ekologi, dan budaya yang ada di dalamnya, di mana masyarakat setempat diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

Saat ini, terdapat sekitar 120 kawasan UNESCO Global Geopark yang tersebar di 40 negara di dunia, termasuk dua di antaranya berada di Indonesia, yaitu Batur di Bali dan Gunung Sewu di Jawa Tengah. Tidak hanya dua geopark tersebut, di Tanah Air terdapat empat geopark yang masuk kategori geopark nasional, yaitu Toba di Sumatera Utara, Merangin di Jambi, Ciletuh-Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, dan Rinjani di Lombok. Selain itu, terdapat 40 geoheritage lainnya yang kini sedang dikembangkan menuju kawasan geopark nasional.

Data yang dihimpun oleh Tim Task Force RMGG Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, pengunjung di seluruh kawasan geopark di Indonesia berjumlah 5.624.493 kunjungan domestik dan 642.000 mancanegara, dengan peredaran uang mencapai lebih dari Rp3,5 triliun. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dadang Rizki Ratman mengutarakan, penataan destinasi yang berbasis alam seperti geopark tentu diharapkan dapat menjaring lebih banyak wisatawan, baik itu lokal maupun mancanegara. Maka dari itu, pemerintah dengan dukungan sejumlah pihak terus menata kawasan tersebut melalui penyediaan 3A, yaitu atraksi, akses, dan amenitas.

Geopark sebagai konsep manajemen pengembangan kawasan alam, lanjut dia, apabila ingin di jadikan destinasi pariwisata seyogianya dikemas menjadi tempat yang menarik untuk dilihat panoramanya (to see) dan pengunjung yang datang juga bisa melakukan suatu kegiatan menyenangkan (to do) yang diciptakan secara kreatif dan menarik serta berbasis pada upaya pelestarian nilai-nilai luhur kawasan tersebut.

Contohnya pengembangan penginapan tradisional (homestay), program pembelajaran atau edukasi, inovasi penciptaan cenderamata, obat-obatan herbal tradisional, pagelaran pertunjukan seni budaya setempat, hingga wisata kuliner. Menurut Dadang, akan lebih bagus lagi apabila akses menuju kawasan geopark mudah dijangkau, baik lewat transportasi udara, darat, maupun laut.

Serta memiliki amenitas yang memadai, seperti prasarana umumnya tersedia dengan lengkap, seperti air bersih dan listrik serta mempunyai fasilitas umum seperti tempat parkir, toilet, bank, money changer, dan fasilitas kesehatan serta keamanan. “Dan yang tak kalah penting, penyediaan fasilitas pariwisata seperti akomodasi dan restoran sehingga pengunjung bisa makan dan menginap di sana. Nantinya, bisa menambah length of stay atau masa tinggal wisatawan,” ujarnya ketika ditemui KORAN SINDO di kantornya pada 29 November 2017.

Pengembangan geopark yang memanfaatkan kesinambungan sumber daya geodiversity, biodiversity, dan culturaldiversity ini, kata Dadang, tidak hanya bertujuan sebagai upaya konservasi semata, yaitu menjaga situs geologis. Namun, sekaligus untuk mendidik dan meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Untuk menuju hal tersebut, perlu upaya promosi yang kuat oleh para pelaku pariwisata dengan pembuatan produk yang bagus.

“Jadi, ketika masuk ke area pariwisata, ada program besar yaitu penataan destinasi serta dilayani oleh pelaku pariwisata yang berkualifikasi sesuai standar kompetensi. Sertifikasi kompetensi, termasuk untuk profesi dan usahanya,” tuturnya.

Dadang mengemukakan, salah satu geopark nasional unggulan adalah Danau Toba yang memiliki keindahan alam yang tiada duanya. Danau ini merupakan danau vulkanik terbesar dan terdalam di dunia, luasnya juga masih juara dibanding yang lain, hanya kalah oleh Victoria Lake di Afrika. Apalagi, objek wisata andalan di Sumatera Utara ini memiliki kisah khusus dalam perjalanan dunia karena letusan dahsyatnya sekitar 75.000 tahun silam yang akhirnya dikenal dengan sebutan Toba Super Volcano.

Sementara itu, Ketua Umum Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar menuturkan, para pelaku industri wisata siap memperkenalkan geopark di Indonesia melalui program dan paket perjalanan yang menarik. Kawasan geopark, lanjut dia, menjadi penambah daya tarik pilihan destinasi bagi pelancong dengan minat khusus, terutama penyuka wisata sejarah dan budaya serta alam dan ecowisata. Apalagi, kegiatan ecowisata yang dikenal ramah lingkungan ini sedang menjadi tren pada masa sekarang dan peminatnya makin banyak yang tersebar di seluruh pen juru dunia.

Sumber : Sindonews

Berikan Komentar Anda Disini

comments

Leave a Reply